I WILL FOREVER SUPPORT SS501

Rabu, 02 Januari 2013

GANGGUAN KEBIASAAN PADA ANAK USIA DINI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak sejak usia lahir sampai usia lahir sampai usia 6 tahun yang dilakukan secara menyeluruh mencakup semua aspek perkembangan dengan memberikan stimulasi terhadap perkembangan jasmani dan rohani agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal sebelum memasuki sekolah dasar (UU NO.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasioanal)
Untuk berkembang secara optimal maka anak selalu aktif dalam segala kegiatannya. Namun, anak yang terlalu aktif atau yang terlalu pasif akan menimbulkan masalah tertentu. Masalah merupakan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Banyak masalah yang timbul dalam diri anak usia dini.
Jenis-jenis permasalahan yang sering terjadi dikelompokkan menjadi permasalahan fisik, sosial, emosi, intelektual dan moral. Permasalahan fisik berupa gangguan panca indera, cacat tubuh, kidal kesulitan bicara, encoporesis, gangguan perkembangan bahasa dan lain-lain. Permasalahan sosial dapat berupa permasalahan anak yang pemalu, anak manja, pembangkang dan permasalahan yang menyangkut hubungan sosial anak. Permasalahan emosi seperti marah, takut, cemas, cemburu, mengisap jempol, sedih dan iri hati. Permaslahan intelektual seperti permasalahan anak yang lamban dalam belajarnya, anak yang berbakat dan anak berkebutuhan khusus lainnya. Permasalahan moral dapat meliputi cangkupan mencuri, berbohong dan merusak.
Semua permasalahan diatas dapat disebabkan karena adanya gangguan kebiasaan pada anak. Anak terbiasa melakukan hal-hal yang kita katakan sebagai masalah. Dalam makalah kami, kami membahas masalah anak yang hobi menghisap jempol, menggigit kuku, mengompol, encopresis (buang air besar), gangguan tidur, dan gangguan gairah.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Gangguan Kebiasaan?
2.      Apa yang menyebabkan anak hobi menghisap jempol dan bagaimana pencegahan yang tepat untuk anak yang hobi menghisap jempol?
3.      Bagaimana penanganan yang tepat untuk anak yang mengompol?
4.      Bagaimana gejala dan penanaganan anak yang mengalami encopresis (kotoran) ?
5.      Bagaimana penanganan anak yang mengalami gangguan tidur?
6.      Bagaimana penanganan anak yang mengalami gangguan gairah?

C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui maksud dari gangguan kebiasaam
2.      Untuk mengetahui dan memahami hobi anak yang suka menghisap jempol dan pencegahan-pencegahannya.
3.       Untuk mengetahui penanganan yang tepat pada anak yang mengompol
4.       Untuk mengetahui gajala dan penanganan yang tepat untuk anak yang mengalami encopresis
5.       Untuk mengetahui penanganan anak yang mengalami gangguan tidur
6.       Untuk mengetahui penanganan anak yang mengalami gangguan gairah.














BAB II
PEMBAHASAN
GANGGUAN KEBIASAAN
A.    Pengenalan
Istilah Gangguan kebiasaan terjadi secara terus-menerus, sebagian besar disengaja dan tanpa dikendalikan oleh fungsi motorik anak. Termasuk mengompol, kotoran, menggigit kuku, hobi menghisap jempol, makan yang berlebihan, tidur sambil berjalan, dan gagap. Karena kebiasaan ini telah sering diulang, mereka akan melawan perubahan. Sigmund Freud pernah mengamati, "banyak dari kita tidak sadar tentang kebiasaan". Seringkali kita melakukan kebiasaan tanpa menyadari bahwa kita melakukannya.
Orang tua cenderung percaya bahwa kebiasaan tersebut tidak menimbulkan masalah, mereka menganggap anak akan "mengatasi" sendiri. Dengan cara ini mereka tidak harus menghadapi masalah dengan memikirkan kedepannya, kejujuran dan rencana tindakan yang pasti untuk mengatasinya. Faktanya, anak-anak biasanya tidak lepas dari kebiasaan. Kecenderungan kebiasaan tersebut akan tumbuh dan mendarah daging pada anak. Selain mengabaikan kebiasaan buruk, orang tua sering kali bangga terhadap anak mereka yang memiliki  kebiasaan tersebut. Mereka tidak menghukum anak yang cenderung bertindak negatif dan bertindak tidak menyenangkan di rumah.

B.     Hoby Menghisap Jempol
Ketika seorang anak memasukkan ibu jarinya ke dalam mulutnya, bibirnya membentuk pertahanan di sekitar ibu jari, dan mengisap bibir, pipi, dan lidah. Permukaan telapak tangan ibu jari biasanya menghadap ke atas. Biasanya tangan lain anak menggosok bagian tubuh lainnya seperti telinga atau rambut, atau benda kesukaan seperti boneka atau selimut.


Meskipun di tahun pertama dan kedua kehidupan sangat umun, namun kebiasaan menghisap jempol secara bertahap akan berkurang dengan bertambahnya umur pada anak. Lebih khusus lagi pada masyarakat kita, sekitar 40% dari anak usia 1 tahun, 20% dari anak usia 5 tahun, dan 5% dari anak berusia 10 tahun aktif menghisap jempol. Dengan demikian, kebanyakan anak secara alami mengatasi kebiasaan itu, tapi ada yang  berlanjut hingga anak menjadi remaja dan dewasa. Dari anak-anak yang sering menghisap jempol pada beberapa tahun pertama kehidupan, sekitar 50% akan menghentikan kebiasaan itu pada usia 5 tahun, 75% pada usia 8 tahun, dan 90% pada usia 10 tahun. Anak akan mulai menghisap jempol pada usia 9 bulan. Anak  perempuan lebih banyak menghisap jempol dibandingkan dengan anak laki-laki.
1.    Alasan mengapa
Bukti menyatakan bahwa bahkan di dalam rahim pun beberapa bayi menghisap jempol mereka. Bayi menghisap bukan hanya karena membutuhkan makanan, tetapi karena hal itu menyenangkan. Memberikan anak kesenangan, perasaan hangat, dan penuh kenyaman. Penggunaan dot merupakan contoh untuk menghentikan menghisap jempol pada anak. Anak-anak akan  menghisap jempol  ketika mereka takut, ketika lapar, ketika mengantuk, atau ketika membutuhkan pengalaman yang menyenangkan. Secara bertahap kebiasaan ini akan berhenti dengan sendirinya saat anak dewasa.
2.    Efek Menghisap Jempol
Dokter gigi telah memperingatkan kita tentang efek buruk yang dihasilkan oleh menghisap jempol pada pengembangan tulang rahang, yakni kelainan gigi, kesulitan dalam mengunyah, dan perusakan wajah. Penelitian yang dilakukan dalam 2 tahun terakhir telah menjelaskan fakta bahwa menghisap jempol memang meningkatkan resiko cacat pada  gigi dan wajah. Intensitas usia, durasi  mengisap, dan kondisi mulut kemungkinan akan mempengaruhi masalah gigi.
Terlepas dari gangguan gigi, kebiasaan menghisap jempol cenderung mengakibatkan anak tidak merespons orang lain ketika sedang mengisap jempol, sehingga mereka mungkin kurang merespon saat dipanggil namanya. Ketika menghisap, anak cenderung menutup dunianya, melamun dan sibuk sendiri. Masalah anak yang hoby menghisap jempol akan menghilang ketika anak-anak lain mengolok-olok nya dan dia menjadi sadar.
3.    Bagaimana mencegah
a.         Dot sebagai pengganti. Penggunaan dot sebagai pengganti sangat menguntungkan untuk kebiasaan menghisap jempol ini. Namun, jika anda membiarkan kebiasaan menghisap jempol ini menjadi suatu kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan, anak biasanya akan menolak dot sebagai pengganti.
b.         Toleransi. Sebagian besar anak prasekolah akan menghisap jarinya di tempat tidur, atau ketika mereka lelah, sakit, malu, atau kesal. Sebagian besar anak-anak ini akan mengatasi kebiasaan itu pada usia 4 tahun. Dengan demikian, orang tua harus menghindari masalah tersebut ketika anak masih kecil.
c.         Memberikan keamanan. Semakin aman anak, semakin sedikit pula keinginan anak mencari kenyamanan dari menghisap jempol. Jika anak mengalami masalah karena tekanan, seperti kesulitan belajar atau persaingan antar saudara, cobalah untuk mengurangi tekanan. Pastikan suasana rumah menjadi mudah, aman, dan bahagia, serta menjadikan persahabatan antara orang tua dan anak.
d.         Meningkatkan waktu menghisap. Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan adalah: puting yang mengalir lambat; jadwal yang lama.
4.    Apa yang harus dilakukan
a.         Mengabaikan.  Dalam mengabaikan kebiasaan menghisap jempol ini, anda dapat berusaha dengan menjaga kesibukan anak melalui berbagai kegiatan. Pastikan anak  bermain dengan orang dewasa dan teman sebaya. Menyediakan berbagai bahan permainan yang merangsang keaktifan tangan, seperti tanah liat dan krayon.
b.         Bimbingan. Berikan pengarahan kepada anak mengenai efek negatif dari menghisap jempol dan mencoba untuk meminta kerjasama anak dalam penerapan langkah-langkah perbaikan. Nyatakan ketidaksetujuan anda terhadap  kebiasaan ini serta yakinkan diri anak mampu menghilangkannya.
c.         Imbalan dan hukuman: Hadiah, termasuk pujian sosial dan benda-benda nyata seperti makanan dan mainan, telah digunakan secara sukses oleh orang tua untuk membantu anak mengendalikan kebiasaan menghisap jempol. Hukuman yang biasa adalah dengan penarikan dari dorongan positif. Misalnya, saat di tempat tidur ketika orang tua memulai rutinitas membacakan cerita untuk anak, tetapi pembacaan cerita akan berhenti setiap kali anak tersebut menghisap jempolnya. Orang tua lainnya menghukum anak mereka dengan mematikan TV  selama 5 menit setiap kali anak menghisap jempol di depannya.
d.         Teknik lainnya.
1)      Pengingat. Ingatkan anak untuk berhenti menghisap jempolnya setiap kali anda melihat perilaku ini pada siang hari dan hanya dengan melepaskan jempol dari mulutnya setelah anak tidur.
2)      Penghapusan. Mengambil benda yang disukai anak dapat mengurangi kenikmatan anak dari menghisap jempol dan menyebabkan ia melupakannya.
3)      Bersaing respon. Setelah menghisap jempol sudah menjadi kebiasaan lama, sangat sulit untuk menghentikan kecuali anda memiliki sesuatu yang lain  yang bisa dilakukan. Ajarkan kepada anak, kemudian, respon fisiknya ketika dia merasa ingin untuk mengisap jempol. Letakkan ibu jari di bawah empat jari lainnya. Keluarga harus memuji tindakan anak. bentuk lain nya seperti memberikan permen karet dan lollypops.
4)      Membatasi sebuah tindakan. Untuk anak yang lebih tua yang yang tidak bersedia, beberapa bentuk pembatasan dapat digunakan sebagai teknik tambahan. Misalnya, memakaikan sarung tangan pada anak saat menonton tv.
5)      Tekanan sosial. Beberapa orang tua telah menginstruksikan kepada saudara mereka untuk melarang anak menghisap jempol dan melaporkan setiap kejadian kepada mereka. Selain itu, anda mungkin meminta bantuan guru. Jika anak masih mengisap jempol di TK, anda dapat meminta guru untuk menginformasikannya.
6)      Latihan kesadaran. Anda dapat membantu menyadarkan anak yang menghisap jempol dengan meminta anak mengisap ibu jari mereka di depan cermin selama 5 sampai 10 menit, sekali atau dua kali sehari pada waktu yang ditetapkan.
7)      Mengisap jempol anda sendiri. Dr Rudolf Driekurs telah menyarankan praktek ini sebagai cara yang di sengaja. Anak akan merasa jijik dan mungkin akan menghentikan kebiasaan itu.
                 e.     Peralatan gigi. Penelitian sampai saat ini telah menunjukkan bahwa cara yang paling sukses untuk menghentikan kebiasaan menghisap jempol adalah dengan menggunakan sebuah alat oral yang dimasukkan ke dalam mulut anak oleh seorang dokter gigi. Biasanya lebih dari seminggu kebiasaan itu akan hilang,  sesekali muncul, dan kebiasaan itu rupanya tidak muncul kembali.
                 f.     Saran. Kebanyakan anak sangat mudah dinasehati, terutama saat masih kecil. Jadi, sementara anak masih di sekolah TK, anda mungkin dapat mengatakan hal tersebut dengan lembut dan menenangkan.

C.    Menggigit Kuku
            Survey menunjukkan bahwa sejumlah besar anak-anak yang menggigit kuku, akan terus menggigit kuku mereka sehingga kuku mereka menjadi jelek, nyeri atau pendarahan. Kebiasaan menggigit kuku ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria. Penggigit kuku sering merasa malu untuk menampilkan kuku mereka didepan umum dan dapat muncul kecemasan serta tidak nyaman dalam situasi sosial. Meskipun sangat umum, menggigit kuku adalah salah satu kebiasaan yang paling sulit untuk dimodifikasi.
1.    Alasan mengapa
           Beberapa orang menggigit kuku mereka sebagai cara untuk melepaskan ketegangan,  gugup, atau kecemasan. Hal ini juga dapat berfungsi untuk mengendalikan keagresifan. Beberapa anak mungkin mulai melakukan karena mereka mengamati orang lain juga melakukannya. Yang lainnya mungkin mulai menggigit kuku setelah melanggar satu aturan atau karena mereka tidak bisa tahan melihat tepi kuku bergerigi. Apapun sumber aslinya, kebiasaan itu tetap bertahan lama walaupun penyebabnya telah menghilang.
2.      Bagaimana mencegah
Jaga kuku anak anda, potong dan dibersihkan sehingga tidak ada tepi kuku yang kasar. Sebagaimana disebutkan di atas, beberapa anak mulai menggigit kuku mereka sehingga menjadi kebiasaan sebagai pengganti perawatan kuku yang tepat. Dengan kuku yang halus, seorang anak tidak memiliki alasan untuk memotong tepi kuku yang kasar dengan giginya.
3.      Apa yang harus dilakukan
Mengomel, mempermalukan, atau memarahi anak tentang kebiasaan menggigit kuku lebih cenderung memperburuk kebiasaan dari pada membantu anak. Sebaliknya, orangtua harus membicarakan dengan anak tentang kerugian dari kebiasaan tersebut (bekas luka, tidak sedap dipandang, ketidak setujuan sosial, orang mengasosiasikannya dengan masalah emosional) dan dengan demikian cobalah untuk meningkatkan motivasi anak untuk mengatasinya. Seorang anak yang termotivasi untuk berhenti dapat menggabungkan beberapa strategi berikut:
a.      Menyimpan catatan. Kebanyakan anak di atas usia 8 tahun, dan beberapa anak kecil, mampu mengamati dan merekam insiden menggigit kuku mereka. Pada kartu catatan dia bisa membuat penghitungan dengan menandai setiap kali ia menggigit kukunya atau menempatkan jari di mulutnya, dia juga harus menuliskan apa yang ia lakukan sebelum ia menggigit kuku. Dengan cara ini ia dapat belajar untuk mencari situasi yang dia hadapi sebelum menggigit kuku, seperti menonton tv, dan melakukan upaya untuk menghindari kejadian yang memicu sampai ia telah memperoleh kontrol atas menggigit kuku.
b.      Penghargaan. Setelah lembaran catatan mengungkapkan rata-rata jumlah waktu seorang anak menggigit kuku selama sehari, orang tua dapat mengatur waktu untuk perbaikan (katakanlah lima kali dalam sehari) dan memberikan hadiah harian kecil untuk memenuhi tujuan ini. Selain itu anak mungkin mendapatkan hadiah besar, sekali seminggu, seperti perjalanan ke kebun binatang atau menonton film. Selain penghargaan yang nyata, jangan mengabaikan juga kekuatan pujian orang dewasa dan perhatian dalam memperkuat pengurangan menggigit kuku.
c.       Hukuman. Jika anak hendak menggigit, hukuman dapat dikombinasikan dengan hadiah untuk tidak menggigit sehingga dapat menghilangkan kebiasaan itu lebih cepat. Bentuk lain dari hukuman adalah penghilangan hadiah positif, seperti hilangnya waktu nonton tv atau hilangnya uang melalui denda.
d.      Latihan kesadaran. Sejak menggigit kuku sering terjadi, otomatis anak tidak sadar, anda dapat membantu anak anda menjadi lebih sadar akan bertindak dengan prosedur berikut. Mintalah anak anda untuk perlahan-lahan menggigit kukunya sampai puncak. Saat bermain peran, anak diharapkan untuk mengatakan dengan lantang: "ini adalah apa yang saya tidak akan melakukannya." anda mungkin mengatur waktu sehingga anak tahu berapa banyak waktu untuk praktek. Prosedur ini memberikan anak lebih banyak kesadaran dan dengan demikian menimbulkan kontrol sukarela atas kebiasaan menggigit kuku.
e.       Bersaing respon. Mengingat kenyataan bahwa anda tidak bisa menggigit kuku saat anda melakukan sesuatu yang lain, mengajarkan anak anda aktivitas bersaing untuk melakukan kegiatan apapun saat keinginan untuk menggigit kuku terjadi. Respon bersaing yang efektif adalah dengan meletakkan tangan anda ke bawah di sisi anda dan mengepalkan kepalan tangan anda secara keras sampai anda merasakan ketegangan di tangan dan lengan anda. Anak harus terlibat dalam respon bersaing selama 2-3 menit setelah godaan untuk menggigit kuku terjadi. Tanggapan bersaing lainnya termasuk menekan kuku jari anda pada permukaan yang keras, menggosok manik, merajut sweater, dan mengocok kartu. Anak harus merlibatkan dirinya dalam respon bersaing dengan segera meminum soda atau permen yang akan cenderung untuk memperkuat terjadinya kegiatan bersaing.
f.        Ajarkan relaksasi. Dengan asumsi bahwa menggigit kuku  adalah hasil dari ketegangan yang berlebihan atau kecemasan, anda mungkin bisa membantu anak belajar mekanisme cara menghadapi kecemasan secara alternatif untuk memprovokasi situasi.

D.    Mengompol
Mengompol atau enuresis dapat didefinisikan sebagai debit, pengeluaran urin ke tempat tidur pada anak usia 4 tahun atau lebih. Mengompol sering terjadi pada beberapa malam dalam beberapa minggu atau setiap malam. Mengompol terbagi kedalam dua jenis, yaitu: mengompol "berkelanjutan" yang terjadi sejak lahir, dan mengompol "terputus" yang telah mencapai jangka waktu yang signifikan pada malam hari (minimal 3 bulan) dan kemudian kembali mengompol. Sebagian besar anak (80%) menampilkan jenis  mengompol terus.

Mengompol merupakan masalah anak pada umumnya. Data menunjukkan bahwa satu dari setiap empat anak berusia antara 4 hingga 16 tahun memiliki masalah ini. Sekitar 12% dari anak usia 6-8 tahun mengalami ngompol, 5%  pada usia 10-12 tahun, dan 2% pada awal kedewasaan. Anak laki-laki lebih banyak mengalami masalah mengompol dibandingkan dengan perempuan.
1.      Alasan mengapa
Untuk tipe mengompol yang terputus  yaitu anak yang kembali mengompol setelah cukup lama tidak mengompol, penyebab yang sering muncul diantaranya tekanan dari luar atau krisis emosional yang membuat anak gelisah, seperti kelahiran saudara baru, penyakit fisik, atau masalah keluarga. Sedangkan penyebab untuk jenis mengompol yang berkelanjutan atau anak yang tidak pernah tidak mengompol pada malam hari, yaitu keterlambatan pematangan fisiologi mekanisme kontrol kandung kemih. Selain itu penyebabnya  adalah hasil dari keterlambatan perkembangan berinteraksi pada praktek pelatihan toilet.
2.      Bagaimana mencegah
Pada pelatihan toilet anak, untuk menghindari hukuman mengompol, yaitu dengan menghukum, memarahi, atau mempermalukan anak yang mengompol. Metode hukuman cenderung membuat anak merasa bersalah, tidak memadai, dan / atau cemas. Ketika seorang anak terlihat cemas atau takut, sulit baginya untuk belajar perilaku baru. Seperti pengendalian pada waktu malam. Hal ini juga bijaksana untuk menunda pelatihan kandung kemih sampai anak merasa tidak nyaman mengompol, berada di bawah kontrol, dan mampu menahan kencing selama beberapa jam. Tanda-tanda kesiapan tersebut biasanya terjadi sekitar 18 sampai 24 bulan.
3.      Apa yang harus dilakukan
Beberapa orang tua keliru membuat serangan langsung pada anak yang mengompol dengan mengkritik, mempermalukan,atau menghukum anak. Diantaranya menjadikan hubungan yang dingin dan jauh dengan anak. Orang tua disarankan untuk menanggapi masalah mengompol dengan tenang dan menunjukkan kepercayaan pada kemampuan anak untuk mengontrol perilaku ini. Bila anak menjadi gelisah, malu, atau berkecil hati tentang mengompol, menjadi lebih sulit untuk menghilangkan prilaku ini. Beberapa keberhasilan telah dicapai dengan membatasi jumlah cairan yang di minum anak setelah jam 6 sore dan dengan mengharuskan anak untuk buang air kecil sebelum tidur. Penggunaan obat, seperti antidepresan trisiklik (imipramine), telah ditemukan mengurangi mengompol dalam satu dari setiap tiga pengompol, tetapi ketika obat ditarik, kembalinya mengompol adalah hal yang umum. Dalam menggunakan prosedur apapun, penting untuk mendapatkan kerja sama anak dan membuat upaya bersama untuk mengatasi masalah, daripada mencoba untuk memaksa metode pada anak.
a.      Bagan bintang. Anak diminta untuk mencatat malam basah dan kering. Malam kering yang disorot pada grafik dengan bintang-bintang emas, dan hadiah, seperti perpanjangan waktu bersama orang tua. Sementara mengabaikan malam basah, orangtua memuji anak untuk setiap malam kering.
b.      Mengurangi stres. Jika anak telah kering di malam hari dan kemudian mulai membasahi lagi, periksa untuk melihat apakah terjadi stres sesaat sebelum kembalinya mengompol, seperti kelahiran saudara baru, pindah ke lingkungan baru, pertengkaran keluarga, atau tidak adanya diperpanjang dari orang tua untuk alasan apapun. Jika stres eksternal yang tak terkendali tampaknya akan memicu ngompol, lakukan apa yang anda bisa untuk mengurangi kecemasan anak dengan memberikan perhatian ekstra, dukungan, dan pemahaman untuk anak.
 Saat
sebelum tidur duduk dengan anak selama 10-15 menit bicara menghibur sehingga anak berangkat tidur dengan santai, perasaan untuk memberi dukungan. Anda bisa juga menghabiskan waktu tambahan pada siang hari dengan berinteraksi dengan anak dalam kegiatan yang menyenangkan.
c.       Mengenakan penalti. Beberapa orang tua meminta anak yang mengompol untuk membersihkan  seprai setelah mengompol dan melihat pakaian tidur sebelum dicuci. Jangan memarahi atau menceramahi saat membuat prosedur ini.
d.      Mempertahankan urin. Penelitian telah menunjukkan bahwa sejumlah pengompol tidak dapat mempertahankan jumlah normal urin dalam kandung kemih. Mengajarkan anak untuk mengontrol kandung kemihnya dengan membuat game dimana anak terus berusaha untuk memecahkan rekor sendiri. Dia diperintahkan untuk menunda pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil selama mungkin dan diminta untuk buang air kecil di sebuah gelas ukur. Ketika anak mampu memegang 12-14 ons, kemungkinan mengatasi mongompolnya meningkat.
e.       Bangun malam. Langkah pertama dalam prosedur ini adalah untuk menentukan jam berapa anak biasanya mengompol setiap malam. Misalnya, jika anda menemukan bahwa anak biasanya mengompol 2 jam setelah istirahat, mengatur jam alarm untuk pergi di kamar anak sebelum saat ini. Ketika alarm berbunyi, anak muncul, buang air kecil di toilet, dan tidur sampai pagi. Setelah 7 malam berturut-turut kering adalah kriteria untuk pengurangan bertahap lebih lanjut, untuk 60 menit setelah tidur, sampai 45 menit, dan akhirnya sampai 30 menit. Anak itu kemudian pergi ke toilet setiap malam tanpa jam alarm.
f.        Metode bel dan pad. Jika seorang anak SD terus mengompol meskipun anda sudah berusaha untuk membantu, anda mungkin harus meminta bantuan profesional. "bel dan pad" merupakan aparat yang paling sukses untuk perawatan profesional yang di laporkan. Dalam waktu 2-3 bulan penggunaan, ia berhasil sekitar 70% dari kasus. Sekitar 30% dari keberhasilan ini akan kambuh kembali, tetapi sebuah aplikasi kedua perangkat biasanya dapat mengatasi kambuh atau dimulainya kembali mengompol.

E.     Mengotori
Mengotori atau encopresis dapat didefinisikan sebagai tinja yang terus-menerus pada pakaian  setelah usia 3 tahun. Untuk usia 3 sampai 8 tahun telah ditemukan bahwa 2,3% pada anak laki-laki dan 0,7% pada anak perempuan. Kejadian mengotori menurun secara spontan pada tingkat 28% per tahun, dan hampir menghilang pada usia 16 tahun.
Mengotori dapat memiliki dampak besar pada anak. Seorang anak yang mulai mengotori cenderung memiliki konsep diri yang semakin terganggu. Ia mungkin bertahan melawan hilangnya harga diri dengan berbicara "saya tidak peduli dengan sikap saya". Hubungan sosial dari anak encopretic sering terpengaruh dengan drastis. Seorang anak bisa diejek oleh rekan-rekannya dan dihindari dalam kelas. Dengan demikian, mengotori bukanlah perilaku yang boleh diabaikan orang tua.


1.      Alasan mengapa
Seperti yang disebutkan sebelumnya, beberapa anak akan kehilangan kontrol buang air besar saat stres atau kesal. Sekitar seperempat anak-anak dengan encopresis biasanya memiliki masalah dengan sembelit.
Kasus encopresis ini dimulai pada saat sekolah TK ketika anak memperlihatkan wajah yang menahan  dengan berbagai alasan (misalnya sembelit, diet yang tidak benar, pelatihan yang salah, krisis keluarga). Pada beberapa kasus, peristiwa ini dapat diidentifikasi. Saat penyimpanan terjadi, usus anak menjadi buncit dan akhirnya berdampak pada anak. Anus menjadi terbuka, dan rembesan terjadi meskipun tinja sebagian besar bisa ditahankan. Setelah anak buncit kronis dengan tinja, bahkan jika faktor psikologis yang mungkin bisa menyebabkan penyimpanan mereda, kondisi fisik akan terus berlanjut karena usus besar menjadi tidak berfungsi. Ia telah kehilangan bentuk dan nada otot dan tidak merespon kotoran dengan dorongan untuk buang air besar.
2.      Bagaimana mencegah
Anak yang mengalamai encopretic kebanyakan mengalami masalah dengan implus agresif mereka. Anak-anak yang terus menerus marah perlu diajarkan bagaimana mengontrol reaksi mereka terhadap kejadian sehari-hari sehingga emosi mereka tidak menjadi kronis.
Anak-anak yang cenderung mengabaikan dorongan untuk buang air besar harus dibantu untuk menetapkan waktu ke toilet pada siang hari. setelah makan pagi merupakan waktu yang baik untuk ke toilet, tapi itu berarti harus membangunkan anak lebih awal dipagi hari sehingga memungkinkan anak cukup waktu untuk bersiap-siap ke sekolah.
Kebiasaan makan yang buruk dapat menyebabkan sembelit pada  anak. Waktu makan harus dilakukan secara teratur. Umumnya diet normal makanan dipilih dari empat kelompok makanan dasar (daging, ikan, dan telur: roti dan sereal: susu dan produk susu: buah-buahan dan sayuran) dan asupan kalori sesuai dengan energi yang dikeluarkan  anak membantu dalam pencegahan sembelit. Berbagai sayuran segar dan buah-buahan segar atau kering sangat membantu dalam memasok residu yang diperlukan. Banyak cairan juga dianjurkan. Hindari toilet training yang  ketat dan sikap yang menyatakan bahwa kotoran "menjijikkan".
3.      Apa yang harus dilakukan
a.      Fisiologis. Empat dari lima anak encopretic telah ditemukan sembelit, adalah penting bahwa impaksi tinja dibersihkan sehingga sensasi "panggilan ke bangku" normal dikembalikan. Anak harus diberikan enema Fleet satu atau dua (tersedia di toko obat) untuk benar-benar mengosongkan usus besar. Karena efek mengikat, susu pada diet anak terbatas pada 1 liter sehari, dan diet dapat disesuaikan untuk memasukkan sejumlah besar serat,  jeruk dan buah kering. Roti, kue kering, dan permen dijaga agar tetap minimum.
b.      Pelatihan toilet. Kebiasaan anak tentang toilet perlu sering diberi pelatihan. Para orang tua harus bersikeras pada rutin dua sesi 10 menit di toilet setiap hari, sesi terjadi pada waktu yang ditetapkan dan dipantau oleh sebuah timer. Sesi toilet harus dijadwalkan setelah makan, terutama setelah makan pagi.
c.       Penghargaan dan denda. Sebuah hadiah yang efektif adalah 30 menit bersama orang tua dimana anak bebas memilih aktivitas. Hukuman untuk setiap insiden mengotori dapat dikenakan seperti mencuci pakaian kotor atau mandi.
d.      Dukungan dan Dorongan. Menghibur anak untuk tahu bahwa masalahnya tidak aneh dan memiliki masalah fisiologi. Orang tua seharusnya tidak menyalahkan anak atau diri mereka tetapi bekerja sama dengan anak untuk memperbaikinya.

F.     Gangguan Tidur
Nilai tidur yang cukup untuk anak-anak adalah penting, tidak hanya untuk fungsi yang tepat dari berbagai sistem tubuh, tetapi juga untuk kesejahteraan psikologis anak.
Gangguan tidur ringan yang sangat umum terjadi pada anak terutama di usia 2 tahun, dan pada anak usia 3 sampai 5 tahun. Mimpi yang mengganggu dan gelisah dalam tidur adalah dua gangguan yang paling umum. Untuk sekitar sepertiga dari anak usia 3 sampai 10 tahun, mimpi yang mengganggu akan hadir.


Meskipun gangguan tidur yang ringan dan sementara adalah kejadian biasa di masa kecil, kesulitan tidur yang parah adalah tanda-tanda awal gangguan emosional pada anak. Misalnya jika masalah parah dan kronis, seperti banyak terjaga pada waktu malam atau mimpi buruk hampir setiap malam dalam jangka yang panjang, maka mungkin ada gangguan emosional yang serius yang membutuhkan konseling profesional.
1.      Alasan mengapa
Penyebab yang mendasari gangguan tidur terjadi karena banyak hal, termasuk kecemasan, konflik internal, gangguan fisik, rangsangan berlebihan, stres situasional, takut gelap, dan takut  ketika akan tidur.
Untuk tidur anak yang masih kecil seperti pemisahan dari orang tua gangguan tidur banyak dihubungkan dengan separation kegelisahan. Anak mungkin takut sesuatu terjadi saat orang tuanya tertidur. Anak merasa dalam bahaya khususnya karena kendali kesadaran hilang selama tidur. Pada anak-anak lain usia 4 sampai 6 tahun, sering memiliki ketakutan tertentu dari apa yang mungkin terjadi saat tidur, seperti orang tua mereka diserang oleh perampok.
 Anak yang mengalami gangguan tidur terbagi dalam enam kategori utama: keengganan untuk tidur; tidur gelisah; mimpi buruk; gangguan gairah, seperti tidur sambil berjalan dan teror malam; insomnia; dan tidur berlebihan.
2.      Perlawanan ketika ingin tidur
Hampir semua anak kecil melewati masa ketika mereka akan beristirahat tidur. Jika orangtua menunjukkan perhatian berlebihan, kesusahan, atau ketidakmampuan untuk menindaklanjuti dengan tegas dalam mengelola situasi, resistensi tidur anak mungkin lebih buruk. Beberapa anak menolak tidur karena kegelisahan atau stimulasi berlebihan, sementara yang lainnya merasa kesepian dan masih mendambakan perasaan meyakinkan mereka dapatkan dari orangtua mereka.
a.      Perlawanan oleh anak kecil. Anak-anak di bawah usia 3 tahun sering tidak tertarik untuk pergi ke tempat tidur dan sering terbangun di malam hari dan meminta untuk dimanjakan. Strategi yang dikembangkan anak untuk menunda waktu tidur yang akrab bagi setiap orang tua, dan ritual waktu tidur dengan mengambil jam tidur orangtua. Anak-anak akan meminta minum air, membacakan satu cerita (dongeng), atau jalan ke kamar mandi.
1)      Bagaimana mencegah
(a)   Menetapkan rutinitas biasa: Waktu tidur yang rutin dan konsisten penting untuk pembentukan pembiasaan siklus tidur-bangun. Sebuah jadwal yang teratur memungkinkan untuk membuat anak secara fisiologis siap untuk tidur pada jam yang sama setiap malam. Pastikan untuk menetapkan jam yang biasa untuk tidur dan bangun tidur. jam ini bisa diubah hanya pada kesempatan khusus. Satu jam sebelum tidur harus menjadi waktu tenang, santai untuk anak. Jadi itu bukan waktu untuk menakuti anak atau untuk menonton program TV yang menakutkan. Cemilan atau mandi air hangat dapat membantu menyiapkan anak untuk tidur. Jika ayah anak pulang agak terlambat dari kantor, mungkin perlu untuk mendorong kembali waktu tidur anak sampai 7:00, 7:30, atau 8:00. Jadi ada waktu untuk bermain dengan sang ayah setelah makan malam. Tidur tambahan pada waktu pagi atau tidur siang yang panjang terutama di sore hari mungkin diperlukan untuk menebus tidur  di malam hari.
(b)   Pemberitahuan lanjutan: anak-anak akan tidur lebih mudah ketika mereka menerima pemberitahuan lanjutan dari orang tua mereka pada saat mendekati waktu tidur. Secara tiba-tiba berkata pada anak, "tidur", adalah untuk mengundang perlawanan. Berikan peringatan terlebih dahulu 5 atau 10 menit menjelang waktu tidur sehingga anak bisa siap untuk itu.
(c)    Jadilah pendukung: mencoba untuk mengasosiasikan tidur dengan beberapa kesenangan, kasih sayang, dan relaksasi yang memungkinkan. Misalnya, Anda mungkin membaca atau menceritakan kepada anak sebuah cerita pengantar tidur, doa malam, menyanyikan lagu selamat malam, atau bicara, berbicara secara dekat dengan anak setelah dia di tempat tidur. Ritual-ritual waktu tidur harus tenang dan santai. Ritual untuk anak kecil memiliki semacam efek ajaib dalam melindungi mereka dari bahaya tidur.
(d)   Bersikaplah tegas: Menjelaskan kepada anak ketika Anda memberikan ucapan selamat malam dengan menciumnya, bahwa ini adalah akhir  interaksi anda dengannya. Meninggalkan ruangan tanpa ragu-ragu atau ketidakpastian, dan bila perlu anda tidak datang kembali. Jika anak merengek setelah anda pergi, mengabaikan protesnya, dan mungkin akan hilang dalam beberapa menit. Kuncinya adalah untuk mengharapkan anak anda tidur pada waktu yang sama setiap malam dan dengan tegas dan percaya diri menegakkan waktu tidurnya. Jika anak menyatakan bahwa dia tidak mengantuk, sampaikan pesan bahwa anda mengharapkan dia untuk beristirahat atau bermain dengan tenang di tempat tidur sampai tidur. Jangan bersikeras menyuruh anak segera tidur karena biasanya ianya berlangsung setengah jam untuk tidur.
(e)    Objek Keamanan: selimut atau boneka binatang kesukaan yang diemong di dalam buaian dapat memberikan keamanan pada anak dan ia akan membuat transisi untuk tidur.
(f)     Kasih sayang: salah satu cara terbaik untuk mencegah gangguan tidur pada anak yang sangat kecil adalah dengan memastikan anak tersebut mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tuanya. Jangan memberikan kritik yang kaku atau keras yang akan membuat anak merasa tidak yakin pada cinta anda.
(g)   Tidak ada hukuman: tidak membawa anak ke tempat tidur dengan hukuman. Hal ini cenderung mengasosiasikan tidur dengan hukuman dalam pikiran anak.
2)      Apa yang harus dilakukan
(a)   Mimpi buruk menangis: keengganan untuk pergi ke tidur dan terbangun ditengah malam adalah kesulitan yang paling sering terjadi pada anak sebelum usia 3 tahun. Jadi cukup umum bila anak-anak sedikit menangis saat sebelum tidur, atau terbangun menangis pada malam hari dan ingin dipegang oleh orang tua mereka. Kasus yang parah terjaga pada malam hari memiliki efek drastis pada fisik dan psikologis orang tua.



Banyak orangtua, terutama dengan anak pertama, cenderung lebih menanggapi tangisan malam anak. Apakah anak semakin ingin anda memeluknya lebih lama dan lebih lama setiap malam? Apakah menangis tiba-tiba berhenti ketika anda mengambil anak itu? Jika kedua kondisi ini hadir, anak mungkin manja, dan anda harus mencoba prosedur berikut yang melibatkan "merencanakan untuk mengabaikan" teriakan itu. Setelah memeriksa sebentar protes pertama anak untuk memastikan ia tidak sakit, basah, atau sakit, sepertinya lebih baik untuk meninggalkan ruangan dan membiarkan anak menangis. Kecuali anak jelas panik dan perlu ditemani sebentar, Anda hanya perlu kembali ke tempat tidur anak setiap 20 sampai 30 menit untuk menyeka wajah anak. Biasanya, anak dengan kebiasaan bangun dan menangis di malam hari akan menangis satu atau 2 jam selama beberapa malam berikutnya dan kemudian rentang semakin pendek sampai dia tidak lagi bangun di malam hari. Penting bagi Anda untuk mengabaikan tangisan kecuali untuk menyeka hidung anak pada saat yang wajar.
(b)   Anak tidak mengantuk: jika semua usaha anda pada pencegahan dan anda menemukan anak anda masih menolak tidur di malam hari, anda harus mempertimbangkan jika anak sedang dimasukkan ke tempat tidur ketika dia tidak mengantuk. Jika hal ini menjadi kasus, anda dapat mencoba mengurangi atau menghilangkan tidur siang atau sedikit menunda tidur dan melihat apakah ini menyelesaikan masalah. Seperti orang dewasa, anak-anak sangat bervariasi pada kebutuhan tidurnya.
(c)    Takut gelap: beberapa anak enggan pergi tidur karena takut gelap. Jika sepertinya ini akan mengganggu anak anda, Anda dapat mencoba satu atau lebih dari langkah-langkah berikut:




1.      Memahami: tidak sabaran atau mengejek ketakutan ini dengan sebutan konyol. Hal ini sangat nyata bagi anak. Ajak anak membicarakannya dengan anda dan menunjukkan bahwa anda tidak hanya ingin memahami tetapi anda meyakini tidak akan terjadi apa-apa kepadanya pada saat gelap. Berikan anak kasih sayang dan meyakinkannya bahwa anda berada di dekatnya dan tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi. Tentu saja, Anda tidak boleh menghukum anak dengan mengancam bahwa hantuakan mengambilnya jika dia nakal.
2.      Memberikan cahaya: meninggalkan cahaya redup di dalam ruangan dan membuka pintu anak sehingga dia tidak akan berada dalam gelap gulita. Atau Anda mungkin mengizinkan anak untuk menyimpan senter dibawah bantalnya sehingga ia dapat menyalakannya ketika dia membutuhkannya.
3.      Menata ulang ruang: jika bayangan gelap di ruangan itu tampaknya akan mengganggu anak, anda bisa menempatkan tirai yang berat diatas jendela atau mengatur ulang posisi tempat tidur sehingga anak kurang memperhatikannya.
4.      Bercerita: buku Margaret Wise Brown, siang dan malam, menggambarkan kucing putih yang menyukai siang dan seekor kucing hitam yang suka malam, telah membantu beberapa anak TK bisa mengatasi rasa takut terhadap gelap.
5.      Perusahaan: kadang-kadang untuk memecahkan masalah dengan memiliki teman didalam ruangan sampai ketakutan reda. Jika Anda memiliki hewan peliharaan, pertimbangkan membiarkan hewan tidur di ruang yang sama dengan anak, Anda mungkin mengatakan kepada hewan, di depan anak, untuk melindungi anak dari segala ketakutan khayalan yang dimiliki anak.


(d)   Meloncat dari tempat tidur: trik favorit anak kecil adalah kebiasaan muncul dari tempat tidur secara tiba-tiba setelah ditidurkan. Dalam kebanyakan kasus orang tua harus bersikap tegas tentang hal ini dan segera mengembalikan anak tersebut ke tempat tidur. Mungkin perlu untuk menurunkan kasur di tempat tidur anak untuk mencegah memanjat keluar.
Beberapa anak menolak untuk tinggal di tempat tidur karena mereka takut berpisah dari orang tua atau khawatir kalau salah satu atau kedua orang tuanya akan pergi pada malam hari. Anak-anak perlu diyakinkan bahwa orang tua akan pulang pada malam hari. Jika ketakutan mereka adalah realistis, orang tua mungkin harus tetap berada  di rumah pada malam hari untuk sementara waktu.
b.      Perlawanan oleh anak-anak yang sudah besar: Balita yang sering menolak tidur dikarenakan takut berpisah dari orang tuanya, anak TK yang sudah mulai besar melaporkan bahwa mereka takut pergi tidur terutama karena suara-suara dan bayangan di ruangan itu dan takut sendirian. Selain itu, anak SD menyatakan bahwa alasan yang paling umum mereka sulit tidur adalah: tidak lelah, suara, kekhawatiran, dan rasa sakit pada fisiknya. Setelah tertidur, anak-anak mengatakan bahwa mimpi buruk dan rasa sakit tersebutlah yang membangunkan mereka.

1)      Apa yang harus dilakukan
(a)   Tidur kemudian: Jika Anda memberikan waktu tidur kemudian, membuat kesepakatan bahwa tidak akan ada mengulur-ulur atau mengeluh jika ini diberikan. Pastikan jam pensiun adalah bagian dari rutinitas tidur yang konsisten yang mencakup jam biasa untuk bangun. Jika waktu tidur anak ditunda setengah jam maka akan sulit untuk membangunkannya dan membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak.


(b)   Takut gelap: sebagai anak-anak yang terus tumbuh, ketakutan mereka terhadap gelap dapat meningkat ketika mereka mengembangkan imajinasi yang lebih besar dan kesadaran dari potensi bahaya. Pastikan untuk meyakinkan anak bahwa ketakutan tersebut normal dan ia akan segera mengatasinya. Membiarkan pintu terbuka dengan cahaya di dalam lorong dapat membantu menghilangkan rasa takut pada kegelapan. Beberapa anak lebih memilih untuk meletakkan senter di bawah bantal mereka.
(c)    Memberikan penghargaan: mendirikan bagan bintang dan menghargai anak untuk setiap malam dia pergi tidur dengan mudah dan tetap tertidur tanpa rewel atau perselisihan.
(d)   Waktu yang sunyi: waktu yang pendek tanpa aktivitas fisik atau kegembiraan sebelum tidur dapat membantu anak yang aktif memperlambat tidurnya. Selama ini, kegiatan cukup dijadwalkan, seperti membaca buku, mendengarkan cerita, atau menonton acara TV untuk bersantai.
(e)    Banyak tidur: orang tua telah mencoba beberapa strategi yang agak drastis yang melibatkan menjaga sampai anak tidur dan kemudian membangunkannya pada waktu seperti biasa. Prosedur ini diulang sampai anak belajar bahwa hal itu menyenangkan (dan sangat melelahkan) untuk tinggal sampai larut malam.
(f)     Berkeliaran malam: pada sekitar usia 3 tahun beberapa anak akan tidur dengan mudah tapi bangun di tengah malam dan melakukan kegiatan seperti mengembara di sekitar rumah, mengambil makanan dari kulkas, atau bahkan pergi ke luar untuk bermain. Anak-anak terjaga dan menyadari apa yang mereka lakukan.
Untuk mencegah kebiasaan ini terjadi, cara terbaik adalah dengan menidurkan anak didalam boks bayi sampai ia berumur sekitar 2,5 tahun. Pastikan anak tumbuh dengan keyakinan bahwa ia tidak diijinkan untuk meninggalkan tempat tidurnya tanpa izin sampai pagi.

Beberapa orang tua telah menghentikan berkeliaran malam menggunakan metode yang agak drastis dengan mengikatkan tali pada tempat tidur anak atau memperluas tempat tidur sehingga anak tidak bisa memanjat keluar. Anak mungkin menangis ketika hal ini dilakukan, tapi tangisan tersebut biasanya akan menghilang pada malam ketiga.
(g)   Tidur di tempat tidur orang tua: jangan biarkan anak Anda mengembangkan kebiasaan masuk dan tidur di tempat tidur Anda pada malam hari. Orangtua berhak menjaga privasi, dan anak-anak perlu belajar untuk tidak tergantung pada orang tua mereka di malam hari. Tegaslah mengenai hal ini dari awal, dan mengantar si anak kembali ke kamarnya dan berbicara atau dengan menghibur anak di sana.
3.      Kegelisahan
Gelisah atau kegelisahan pada fisik atau mental dimalam hari biasa terjadi pada anak-anak. Seperti bolak-balik, menaikkan kaki atau melambaikan tangan tanpa tujuan, menendang dari balik selimut, menggertakkan gigi, membenturkan kepala, dan bangun ketika mendengar suara. Kegelisahan dipamerkan dari waktu ke waktu oleh semua anak, tetapi dalam banyak kasus hal tersebut sangat jelas bahwa orang tua menganggapnya masalah. Macfarlane dan rekan-rekannya menemukan bahwa kegelisahan malam pada anak usia 21 bulan dianggap sebagai masalah bagi 38% anak laki-laki dan 27% anak perempuan
`           Gerakan gelisah tampaknya melepaskan ketegangan bagi anak. Sebagian besar anak-anak yang gelisah pada malam hari juga menunjukkan kegelisahan pada siang hari, karena aktivitas yang berlebihan dan rangsangan. Kegelisahan pada malam hari sepertinya menjadi perpanjangan dari kegelisahan pada siang hari.
Menggertakkan gigi atau bruxism adalah gangguan tidur lain yang umum terjadi pada anak. Keparahan meggertak dapat mengikis enamel gigi, dan menyebabkan anak bangun pagi dengan rahang yang lelah. Salah satu strategi untuk mengatasi bruxism adalah mengajarkan anak bagaimana untuk rileks dan meredakan ketegangan sebelum tidur.
Membenturkan dan memutarkan kepala, serta menggoyangkan tempat tidur adalah kebiasaan motorik anak-anak yang juga dapat melepaskan ketegangan. Sekitar 15 sampai 20% anak akan menunjukkan kebiasaan ini, yang sering terjadil sekitar usia 2 dan 3 bulan dan biasanya menghilang antara usia 2 ½ dan 3 tahun. Beberapa orang tua telah melaporkan keberhasilan dengan memberikan pengganti dengan hal yang menyenangkan untuk mengalihkan perhatian anak dari membenturkan kepala. Kegiatan pengganti tersebut seperti musik, kuda kegemaran, ayunan, dan metronom diatur untuk melakukan sinkronisasi dengan irama gerakan anak.

4.      Mimpi buruk
Mimpi buruk adalah ketakutan pada malam nari atau reaksi ketakutan yang terjadi selama tidur. Hal ini umumnya dipicu oleh mimpi yang menakutkan. Mimpi buruk yang klasik lebih parah dan agak mengganggu. Ini melibatkan jeritan keras yang tiba-tiba pada saat tidur yang disertai dengan tanda-tanda kecemasan yang hebat: berkeringat, pupil melebar, ekspresi wajah tetap, dan kesulitan bernafas. Anak merasa seperti ia dicekik, seolah beban berat berada di dadanya, merasa sulit untuk bernapas, dan menjadi panik. Biasanya anak akan cepat bangun setelah mimpi buruk dan dapat tenang dengan mudah. 1 dari 5 anak bisa menjelaskan secara rinci isi mimpi menakutkan tersebut. Kadang-kadang anak takut untuk menceritakan mimpi buruk mereka karena takut hal itu mungkin menjadi kenyataan.
Penyebab mimpi buruk dapat bervariasi, seperti kecemasan, konflik atau takut dihukum karena perasaan marah terhadap orang tua. Penyebab fisik, seperti demam atau gangguan pencernaan lambung, juga bisa memicu mimpi yang mengganggu.
Mimpi buruk yang sesekali tidak menjadi tanda bahaya. Namun jika mimpi buruk tersebut sering atau berulang, sangat parah, atau cukup mengganggu bagi anak, maka hal tersebut mungkin menyebabkan gangguan emosional yang serius pada anak sehingga membutuhkan penanganan orangtua, dan mungkin para ahli.
a.      Bagaimana mencegah. Mimpi buruk mungkin kurang terjadi jika anak menghindari kegiatan yang terlalu menegangkan dan terlalu menyenangkan di siang hari, jika orang tua tidak memarahi atau menghukum anak sebelum tidur, dan jika periode sebelum tidur adalah waktu yang tenang dan menyenangkan dengan interaksi yang hangat antara orang tua dan anak. Orang tua juga disarankan untuk tidak menggunakan ancaman berat untuk mendapatkan kepatuhan. Misalnya, tidak pernah mengancam untuk meninggalkan anak jika dia bertingkah, atau mengatakan bahwa hantu akan mengambilnya  jika ia jahat. Membantu anak merasa aman dan dicintai pada siang hari karena ini membentuk dasar untuk beristirahat dengan nyaman di malam hari. Pastikan anak tersebut dirawat beberapa waktu oleh pengasuh selain orang tua sehingga anak tidak menjadi terlalu bergantung pada anda sehingga mimpinya diganggu oleh ketakutan untuk keamanan anda.
b.      Apa yang harus dilakukan
1)      Dukungan orang tua. Kebutuhan yang paling mendesak untuk anak yang memiliki mimpi buruk adalah dukungan orangtua. Sambil tetap tenang dan percaya diri, cepat kearah anak dan memegang lalu memeluk dia. Menyalakan lampu untuk menunjukkan kepada anak mengenal ruangan dan membantunya terjaga terus. Bicaralah  yang menenangkan dan meyakinkan. Jelaskan bahwa dia bermimpi buruk, bahwa mimpi tidak nyata, dan bahwa hal tersebut adalah bagian dari tidur. Biarkan anak tahu bahwa setiap orang memiliki mimpi menakutkan namun mimpi tersebut tidak dapat menyakiti kita jika kita tahu ia hanya membuat percaya. (Anda mungkin harus mengulangi diskusi ini pada hari berikutnya ketika anak sepenuhnya terjaga). Yakinkan anak bahwa Anda berada di dekatnya dan tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Anak kecil mungkin perlu hiburan yang cukup sampai ia dapat tibur kembali.
2)      Menyelidiki kemungkinan penyebab. Berusaha untuk mengungkap penyebab ketakutan malam berulang.  Isi dari mimpi buruk tersebut dapat memberikan petunjuk penyebab mimpi terjadi. Anda mungkin ingin membantu anak menghubungkan mimpi menakutkan tersebut dengan peristiwa nyata yang mungkin telah merangsang mimpi. Berbicara secara baik-baik dengan memperhatikan ekspresi anda yang kemungkinan dapat membantu meringankan rasa takut. Anda juga dapat mendorong anak untuk "bertindak" mengeluarkan ketakutan: misalnya anda dan anak bermain "dokter" dimana anak memainkan peran dokter yang memberikan tembakan terhadap hal yang ditakuti. Dengan cara ini anak merasa dapat mengontrol sesuatu dan mengurangi menakutkan.
3)      Menghadapi mimpi yang menakutkan. Kebijaksanaan ini sering membantu anak menghadapi dan mengatasi objek yang menakutkan dalam mimpinya. Hal ini mengurangi rasa takut dengan memberikan rasa penguasaan dan kontrol diri. Misalnya, Anda mungkin memiliki anak yang menggambar laba-laba hitam yang menyerangnya di mimpi buruk itu. Ketika anak selesai menggambar, doronglah anak untuk menyerang gambar, meneriakinya, menumbuk dengan tinjunya, dan akhirnya merobek  dan menghancurkan laba-laba. Anda juga mungkin memainkan peran laba-laba dan membiarkan anak melompat dan memukul anda sampai anda melarikan diri.
5.      Gangguan gairah
Seperti disebutkan sebelumnya, studi tentang tidur sambil berjalan, tidur berbicara, teror malam, dan mengompol mengungkapkan bahwa gangguan tidur terjadi secara tiba-tiba, gairah yang hebat dari tahap tidur nyenyak dan tidak berhubungan dengan aktivitas mimpi normal. Berbagai gangguan gairah sering muncul pada orang yang sama pada waktu yang berbeda, dan seringnya ada riwayat keluarga pada gangguan tersebut.  Pada gangguan ini anak tidak memiliki memori keesokan paginya. Seorang peneliti mengamati bahwa jenis gangguan gairah anak diperlihatkan  dengan kecenderungan anak untuk berkhayal.
a.      Tidur sambil berjalan. Sleepwalking atau berjalan sambil tidur biasanya terjadi saat 1 sampai 3 jam setelah anak tertidur. Meskipun anak berjalan goyah dan bisa tersandung, ia mampu menghindari objek dan biasanya tidak melukai dirinya sendiri. Anak mungkin berjalan di sekitar kamarnya, bagian lain dari rumah, atau di luar ruangan. Keesokan paginya anak mengingat sedikit atau sama sekali tidak ingat dari tindakan yang dilakukannya.
Apa yang harus dilakukan. Anak yang ditemukan tidur sambil berjalan harus dipimpin kembali tidurnya. Dengan mengikat lonceng pada pintu kamar tidur anak, Anda akan diberi tanda saat terjadinya tidur sambil berjalan. Dengan menasehati anak, Anda mungkin dapat memberikan saran secara langsung bahwa ia akan terbangun saat dia merasa kakinya menyentuh lantai pada malam hari.
b.      Tidur berbicara. Somniloquy atau berbicara dalam tidur sering dialami oleh kebanyakan anak dari satu waktu ke waktu. Hal ini mungkin terbatas pada beberapa kata yaitu sedikit bergumam atau mungkin ungkapan yang jelas dan dapat dikenali yang mencerminkan pikiran dan kegiatan dari hari sebelumnya.
Dengan mendengarkan pembicaraan pada waktu tidur, Anda mungkin dapat mencari tahu apa yang mengganggu anak sehingga Anda bisa membicarakan tentang topik tersebut keesokan harinya. Cobalah buat waktu sebelum tidur setenang dan sesantai mungkin dan lihat apakah hal ini mengurangi berbicara atau menangis dalam tidur.
c.    Teror malam. Pavor Nocturnus atau teror malam mengacu pada reaksi panik yang parah disertai dengan aktivitas motorik dan tidur sambil berbicara sehingga membangkitkan anak dari tidur nyenyaknya. Biasanya anak tiba-tiba duduk tegak di ranjang dan menjerit. Dia seperti berhalusinasi atau menatap dengan mata terbelalak pada sebuah objek hayalan, bernafas berat, berkeringat, dan susah menjelaskannya. Di pagi hari ia tidak ingat peristiwa malam hari.
Anak dengan teror malam cenderung tegang, anak-anak yang aktif secara fisik yang tidur dengan kelelahan dan tegang. Teror biasanya terjadi selama beberapa jam pertama setelah tidur.
1)      Bagaimana mencegah. Satu jam sebelum tidur harus tenang, menghindari TV, dan  cerita yang menakutkan. Mandi air hangat sebelum tidur juga dapat membantu. Pastikan tidak ada suara keras yang tiba-tiba mengganggu tidur anak karena ini dapat memicu serangan.
2)      Apa yang harus dilakukan
(a)   Dukungan orang tua: terus menghibur anak, membantu mengarahkan dirinya pada kenyataan, dan memberikan kepastian. Katakan siapa Anda, di mana anak itu, dan segala sesuatu yang baik saja. Tinggallah bersama anak sampai peristiwa tersebut selesai. Tidur nyenyak biasanya terjadi setelahnya.
(b)   Pengobatan: dengan obat-obatan dan imipramine diazipam telah berhasil digunakan untuk menghentikan terjadinya serangan teror malam.
(c)    Adenoids: salah satu studi menemukan bahwa adenoidectomy pada anak tampaknya untuk membebaskan saluran udara dan mendorong oksigenasi otak. Dari 23 anak yang dioperasi, 22 pulih dari teror malam.
(d)   Melepaskan mainan: anak-anak sering mengalami kelegaan dari rasa takut ketika mereka diberi kesempatan untuk mengekspresikan kecemasan tersebut dalam media bermain. Bantu ketakutan malam anak dengan mendorong anak untuk menghadapi objek yang ditakutinya dalam bermain drama atau boneka dan untuk mengatasi makhluk menakutkan atau hal-hal dengan mempermainkan mereka, dengan menggunakan teman sihir untuk membantu, atau meminta keluarga atau teman untuk membantu setelah berjuang sendiri dengan berani sampai bantuan tiba.
6.      Peningkatan tidur
Tidur berlebihan mengacu pada tidur yang lebih dibandingkan individu  biasanya tidur. Alasan untuk tidur meningkat banyak, dan ketergantungan obat penyebab dasar dari gangguan ini.
a.      Alasan mengapa
1)      Psikologis. Secara psikologis, tidur kadang-kadang bisa menurunkan tekanan hidup. Jadi jika anda mendapati tidur yang terlalu lama pada anak anda, cobalah untuk berbicara dengan anak dan mendorong dia untuk mengungkapkan masalah yang mendasari atau trauma psikis.
Kantuk yang berlebihan atau hipersomnia juga bisa merupakan hasil dari kebosanan. Karena kesepian, anak-anak lebih tertarik  untuk menikmati tidur siang sebagai sarana untuk menghabiskan waktu. Solusi kebosanan adalah untuk melibatkan anak dalam kegiatan siang hari seperti pramuka, olahraga, dan hobi.
2)      Fisik
(a)   Kelelahan fisik. Anak anda mungkin akan banyak tidur karena adanya kelelahan, menurunnya keadaan fisik. Ini mungkin hasil dari terlalu banyak aktivitas di siang hari dan / atau terlalu sedikit tidur di malam hari.
(b)   Narkolepsi: narkolepsi adalah gangguan fisik ditandai dengan berulangnya peristiwa  kantuk diikuti dengan tidur beberapa kali dalam sehari. Banyak orang menderita dan tidak benar-benar tertidur tetapi sepanjang hari mengantuk. Sebagian penyebab gangguan ini adalah genetik,  karena sebagai besar kejadian tertinggi adalah kekeluargaan. Karena tanda-tanda awal narkolepsi sering hadir di masa kecil dan masa remaja, penting untuk mengatur pemeriksaan medis untuk anak yang menunjukkan peristiwa yang berulang dari rasa kantuk di siang hari atau kelelahan seperti tertidur di dalam kelas, saat naik mobil, atau saat menonton TV.
3)      Gangguan fisik lainnya: tidur berlebihan dikaitkan dengan hipotiroidisme, ensefalitis virus, hipoglikemia, tidur apnea hipersomnia, dan penyakit lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar